Untuk Istriku Tercinta
Hari ini, genap lima belas tahun sejak Allah menyatukan kita dalam sebuah akad yang sederhana, namun begitu agung maknanya.
Ketika itu, aku datang bukan sebagai laki-laki yang telah memiliki segalanya. Aku hanya membawa keyakinan, keberanian, dan janji untuk berusaha membahagiakanmu seumur hidupku. Aku tidak memiliki banyak harta untuk ditawarkan. Namun engkau tetap mengulurkan tanganmu, memilih mempercayaiku untuk memimpin perjalanan yang sama-sama belum kita ketahui ujungnya.
Lima Belas Tahun Perjalanan
Kini, lima belas tahun telah berlalu.
Jika kuingat kembali, ternyata hidup kita lebih banyak diisi oleh perjuangan daripada kemewahan. Ada masa ketika setiap rupiah harus dihitung. Ada keinginan-keinginan yang kita simpan rapat demi kebutuhan yang lebih penting. Ada hari-hari ketika pekerjaanku membuatku harus pergi jauh, menembus sungai, menyusuri kebun, melewati jalan berlumpur, sementara engkau tetap menjadi penjaga rumah, membesarkan anak-anak dengan kesabaran yang mungkin tak pernah sepenuhnya bisa kubalas.
Engkau tidak pernah meminta kehidupan yang mewah. Engkau hanya meminta aku pulang dengan selamat.
Dan hingga hari ini, doa sederhana itu masih menjadi doa yang paling sering kuamini.
Titipan Kebahagiaan
Allah kemudian menitipkan kebahagiaan kita satu per satu.
Pada tahun 2013, lahirlah Fatih, yang mengajarkan kita bagaimana rasanya menjadi ayah dan ibu untuk pertama kalinya. Bersamanya, kita belajar bahwa cinta ternyata memiliki bentuk yang sama sekali baru.
Lima tahun kemudian, pada 2018, hadir Aqila, yang memenuhi rumah dengan tawa dan kelembutan. Kehadirannya membuat keluarga kecil kita terasa semakin utuh.
Kemudian pada tahun 2023, Allah kembali mempercayakan Hayyuna kepada kita. Anak kecil yang menjadi pelengkap kebahagiaan keluarga ini, sekaligus pengingat bahwa nikmat Allah selalu datang dengan cara yang indah.
Rumah yang Akhirnya Allah Izinkan Berdiri
Tahun 2023 juga menjadi tahun yang tidak akan pernah kulupakan.
Setelah menunggu bertahun-tahun, akhirnya Allah mengizinkanku memberikan sebuah rumah untukmu.
Mungkin bagi banyak orang, rumah hanyalah bangunan. Tetapi bagiku, rumah itu adalah simbol dari doa-doa panjang yang akhirnya dijawab oleh Allah. Rumah itu berdiri di atas kesabaranmu menunggu. Berdiri di atas pengorbananmu yang tidak pernah mengeluh. Berdiri di atas keyakinanmu bahwa rezeki Allah selalu datang tepat pada waktunya.
Maafkan aku karena membuatmu menunggu selama itu.
Namun terima kasih… karena tidak pernah menjadikan penantian itu sebagai alasan untuk berhenti percaya kepadaku.
Rumah yang Telah Lama Hidup
Sebenarnya, aku baru menyadari satu hal.
Rumah kita tidak benar-benar dimulai dibangun pada tahun 2022.
Rumah itu telah berdiri sejak 29 Juni 2011, ketika engkau mengucapkan “ya” untuk menemani seorang laki-laki yang belum memiliki banyak hal selain mimpi-mimpi besar dan tekad untuk terus berjuang.
Bangunannya mungkin baru selesai bertahun-tahun kemudian.
Tetapi “rumah” itu sudah lama hidup di dalam dirimu.
Di dalam kesabaranmu.
Di dalam doa-doamu.
Di dalam setiap pelukan yang menguatkanku ketika aku lelah.
Di dalam setiap senyummu yang membuatku kembali yakin bahwa semua perjuangan ini layak diperjuangkan.
Janji yang Terus Kupelajari
Aku sadar, selama lima belas tahun ini aku masih jauh dari suami yang sempurna. Masih banyak kekurangan yang mungkin melukai hatimu tanpa kusengaja. Masih banyak impianmu yang belum sempat kuwujudkan.
Namun jika ada satu janji yang ingin terus kupegang, itu adalah aku tidak akan berhenti belajar menjadi suami yang lebih baik, ayah yang lebih baik bagi Fatih, Aqila, dan Hayyuna, serta imam yang terus belajar membimbing keluarga kecil kita menuju ridha Allah.
Kelak, ketika anak-anak kita telah dewasa, aku berharap mereka melihat bahwa ayah dan bundanya bukan pasangan yang tidak pernah memiliki masalah. Mereka adalah dua orang yang memilih bertahan, saling memaafkan, saling menguatkan, dan tidak pernah berhenti mencintai karena Allah.
Terima kasih telah menjadi perempuan terbaik yang Allah hadirkan dalam hidupku. Terima kasih telah menjadi ibu yang luar biasa bagi anak-anak kita. Terima kasih karena selalu percaya kepada laki-laki yang masih terus belajar ini.
Doa untuk Kita
Semoga Allah menjaga kesehatanmu, memanjangkan umurmu dalam keberkahan, menguatkan iman kita, menjaga keluarga kecil ini dalam sakinah, mawaddah, wa rahmah, dan mempertemukan kita kembali di surga-Nya.
Selamat anniversary ke-15, istriku.
Jika kelak rambut kita telah memutih, langkah kita mulai melambat, dan anak-anak telah memiliki jalan hidupnya masing-masing, aku masih ingin duduk di sampingmu, mengenang semua perjalanan ini sambil bersyukur bahwa lima belas tahun lalu, Allah mempertemukan kita.
Aku mencintaimu karena Allah. Hari ini, esok, dan selama Allah masih mengizinkan kita bersama.
Suamimu
