Setelah sempat bertahun-tahun dikenal dengan sebutan negeri seribu parit, kini negeri ini juga ingin disematkan sebagai negeri seribu jembatan. Jika parit merupakan simbol penjaga eksistensi kesuburan tanah, maka jembatan menyatukan daratan yang terpisah akibat dibuatnya ribuan parit tersebut. Jembatan bukan sekedar tempat lewat saja. Tapi bagi sebagian orang, ia adalah titik temu.
Saking banyaknya jumlah jembatan yang ada, maka tak jarang diantara kami yang kadang menjadikan jembatan sebagai titik kumpul. Meskipun sekarang sudah banyak bergeser, namun di daerah-daerah yang belum banyak kendaraan, jembatan masih merupakan tempat pilihan untuk sekedar dijadikan tempat kumpul atau setidaknya spot background foto.
Makanya tak jarang, jembatan selain fungsinya sebagai penghubung daratan, ia juga berfungsi sebagai penghubung ingatan, karena tak sedikit memori yang pernah tertinggal di sana. Meski bentuk dan materi bangunannya jauh lebih bagus, memori yang pernah tertinggal di sana tak pernah hilang.
Ada momen-momen tertawa tanpa sebab pernah terjadi di sana, janji-janji kecil yang dilontarkan dengan nada bercanda dan angan-angan sesaat yang tak pernah terwujud jadi kata.
Lucunya, meski kita tak pernah benar-benar berniat menjadikannya tempat istimewa, kadang ia menjadi istimewa karena momen tak terduga yang membuka kenangan-kenangan masa lalu. Karena kenangan tak selalu datang dari yang direncanakan. Ia menetap diam-diam, menunggu waktu untuk diingat kembali.
Foto ini kami ambil di jembatan sungai empat, di momen kunjungan ke kampung kelahiran mamak, sungai empat. Siang ini kami menghadiri resepsi pernikahan salah seorang kerabat. Kami mengunjungi dengan berjalan kaki, di perjalanan pulang kami sempat berfoto di sebuah jembatan yang berusia cukup lama, meski sudah diperbaiki beberapa kali.
