Pada lebaran tahun ini, kami sekeluarga menyempatkan bersillaturrahim ke Sungai Empat. Kami kembali menyusuri jalan-jalan kecil menuju kampung halaman mamak di Desa Sungai Empat. Desa yang sederhana, tenang, dan sarat kenangan. Di sanalah mamak dilahirkan dan dibesarkan—dan di sanalah pula jejak-jejak masa lalu keluarga besar mamak tertanam.
Bagiku, kunjungan ini bukan hanya soal silaturahmi, tetapi juga sebuah kontemplasi kehidupan. Di antara tawa, cerita, dan suguhan khas kue Lebaran, saya menyadari satu hal yang menghentak : waktu terus berjalan, dan kita semua sedang menghitung mundur kesempatan. Kesempatan untuk bersama, untuk hadir, dan untuk saling menguatkan sebelum kehilangan datang mengetuk pintu lagi.
Melihat wajah-wajah keluarga besar mamak—yang kini sebagian mulai menua, sebagian baru bertumbuh—membuat saya merenung dalam bahwa betapa cepat waktu berlalu. Dulu kami masih kecil, berlarian di halaman rumah ini, kini kami datang membawa anak-anak kami sendiri. Sementara beberapa tempat sudah kosong tak lagi bisa diisi, hanya menyisakan cerita dan kenangan.
Perjalanan hidup ini, saya sadari, adalah tentang menerima bahwa segala sesuatu akan berubah. Orang-orang datang dan pergi, momen berlalu, dan kehilangan menjadi bagian dari cerita yang tak bisa kita tolak. Tapi justru di situlah letak nilai dari setiap pertemuan.
Tulisan ini saya abadikan sebagai pengingat. Bahwa dalam setiap langkah hidup, kita tidak sedang mengejar sesuatu, tapi sedang menuju akhir dengan bekal amal baik, kasih sayang, dan jejak yang kita tinggalkan di hati orang lain. Semoga kita tidak terlalu sibuk merencanakan hari esok, hingga lupa bahwa pertemuan hari ini pun adalah anugerah yang sangat layak untuk disyukuri.
