KAMPUNG HALAMAN

  • 2 min read
  • Apr 15, 2025

Kampung halaman bukan sekadar geografis dan titik koordinat semata. Ia adalah ruang yang berisi jejak langkah, suara tawa yang memenuhi udara, dan aroma kenangan yang tak bisa dipindahkan ke ruang apapun. Kampung halaman adalah tempat di mana sesekali kita bisa sejenak melupakan waktu — tempat di mana kita merasa seperti katak dalam tempurung, merasa bahwa dunia ini hanya seluas halaman rumah. 

Saya bersama keluarga baru-baru ini kembali ke kampung halaman ayah tepatnya rumah almarhum datuk di Desa Baturijal, mengajak keluarga menginjakkan kaki di rumah almarhum datuknya meski hanya di halaman. Rumah itu masih berdiri, meski sebagian kayunya telah mulai dimakan usia. Tapi yang membuat hati terasa lebih hening adalah kenyataan bahwa orang-orang yang dulu membuat rumah itu hidup, kini sebagian telah tiada. Tanpa kehadiran mereka, rumah itu seperti tubuh tanpa jiwa—diam, namun penuh kenangan. Dulu semasa hidupnya, ayah seringkali mengajak kami mengunjungi datuk di rumah ini.

Kampung halaman tak sekadar tempat. Ia juga kumpulan orang. Ketika orang-orang itu telah tiada, maknanya pun memudar perlahan. Rumah yang dulu ramai kini hanya berisi gema. Kursi-kursi yang dulu penuh tawa kini hanya menyambut sunyi. Saya berjalan menyusuri halaman — yang dulu kami pernah bermain di sini,  sambil menggandeng tangan anak saya. Rasanya seperti memperkenalkan dia pada bagian dari hidup saya yang sudah berubah bentuk—bukan lagi sebagai kenyataan, tapi sebagai kenangan. Hal paling kami ingat di halaman ini barangkali adalah pohon rambutan yang pada musim berbuahnya sangat lebat.

Namun dalam diam itu, saya sadar: meski fisiknya berubah dan sebagian penghuninya telah tiada, kampung halaman akan selalu hidup di dalam diri kita. Ia hidup dalam kenangan, teladan yang baik, kebiasaan dan hal kecil yang kadang secara tak sadar jadi kebiasaan kita. Rumah bisa saja berganti penghuni, tapi kenangan tidak pernah benar-benar pergi.

Saya menulis ini sambil memandangi foto saya dan anak sulung saya di depan rumah datuk. Kami berdiri di antara masa lalu dan masa depan—saya sebagai anak dari seorang ayah yang telah tiada, dan anak saya sebagai generasi berikutnya yang mungkin suatu hari akan berdiri di sini, mengenang ayahnya dengan cara yang sama.

Kampung halaman mungkin tak lagi lengkap. Tapi ia tetap penting—sebagai pengingat bahwa kita berasal dari cinta, kehangatan dan wajah-wajah yang kini tinggal di hati.

Post Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *