KUNJUNGAN PERTAMA

  • 5 min read
  • Agu 03, 2025
Kunjungan Pertama: Melihat Senyum Bahagia Fatih di Pesantren IBS
Hari Ahad kemarin adalah hari yang sangat istimewa bagi keluarga kami. Setelah dua minggu berpisah dengan Fatih, akhirnya kami bisa mengunjunginya di Pondok Pesantren IBS. Ini adalah kunjungan pertama kami sejak mengantarkannya dua minggu yang lalu.

Perasaan Campur Aduk Menuju Pesantren

Perjalanan menuju lokasi pesantren kali ini terasa berbeda. Dalam kunjungan pertama ini, kami juga mengajak nenek dan Vina sekeluarga. Dua minggu lalu, suasana mobil dipenuhi kekhawatiran dan air mata perpisahan. Kali ini, kami dipenuhi rasa rindu dan penasaran.

Istriku, yang memang sangat dekat dengan si sulung, terlihat bersemangat sejak pagi. Wajahnya berseri-seri, sesekali bertanya, “Apakah dia menunggu kehadiran kita ya?”

Kedekatan istri dengan si sulung memang luar biasa. Sebelum masuk pesantren, mereka hampir tidak pernah terpisah dalam waktu yang lama. Pulang sekolah, biasanya selalu ada waktu khusus untuk bercerita dan berbagi keluh kesah dengan bundanya.

Dua minggu terakhir, aku sering melihat istri sesekali menangis menatap kosong. Kadang kalau lagi makan makanan kesukaan Fatih, kami teringat dia.

Senyum yang Mengubah Segalanya

Sesampainya di pesantren, suasana yang tenang langsung terasa. Meski ramai, namun suasanya menenangkan. Santri-santri terlihat sedang bercengkrama dengan keluarga mereka. Hari ini memang jadwal bagi santri tingkat tsanawiyah putra untuk bertemu keluarga.

Tadinya setelah memarkirkan mobil, kami ingin memanggil Fatih melalui Petugas Keamanan. Rupanya dia sudah menunggu di arena lapangan, tak jauh dari tempat parkir mobil. Ketika melihat mobil kami datang, dia langsung berlari menghampiri kami dan langsung memeluk bundanya. Rupanya dia sudah hafal betul dengan mobil kakeknya karena ada tulisan namanya di bagian depan mobil

“Senyum lebar mengembang di wajahnya ketika melihat kami. Mata istriku langsung berkaca-kaca, tidak bisa menahan haru. Pelukan pertama mereka setelah dua minggu berpisah adalah momen yang akan selalu kuingat.”

“Abang sudah lama menunggu di sini,” katanya dengan suara yang lebih mantap dari dua minggu lalu. Ada sesuatu yang berbeda dari cara bicaranya – lebih dewasa, lebih terdengar teratur, sesekali ada semacam kegugupan bahkan terdengar seperti mau menangis.

Perubahan yang Mengejutkan

Selama beberapa jam kami bersama, aku tidak bisa tidak memperhatikan perubahan-perubahan kecil pada Fatih. Dia bercerita dengan bangga bagaimana dia sudah bisa mengatur waktu dengan disiplin. Bangun sebelum subuh, rutinitas tahajud, dan jam tidur yang teratur.

Dia juga bercerita tentang jadwal harian, teman-teman baru, hal-hal baru yang menarik, tantangan-tantangan yang dihadapi dan pilihan olahraga badminton untuk ekskulnya.

Beberapa kali dia mengucapkan “Boleh ya yah” untuk hal-hal kecil yang sebenarnya bagi kami biasa saja. Ketika kami membawakan makanan kesukaannya, dia senang sekali, kami langsung makan sama-sama di bawah pohon beralas tikar.

Kebahagiaan Seorang Ibu

Yang paling membahagiakanku adalah melihat wajah istri yang berseri-seri. Kekhawatiran-kekhawatiran yang selama dua minggu menghantui pikirannya seolah sirna begitu saja. Dia bercerita panjang lebar dengan Fatih, menanyakan segala hal dari A sampai Z, dari urusan makan sampai urusan teman-teman. Tentunya jauh lebih detail dari pada pertanyaan-pertanyaanku.

“Abang makannya teratur? Teman-temannya baik? Ustadznya baik ya? Kangen rumah tidak?”

Pertanyaan-pertanyaan itu keluar beruntun, dan Fatih menjawab satu per satu dengan sabar dan tentunya dengan gayanya yang khas.

Ada momen ketika istriku berbisik “Alhamdulillah ya, sepertinya Fatih terlihat bahagia di sini. Pilihan kita benar.”

Pelajaran untuk Seorang Ayah

Kunjungan kemarin memberikanku beberapa pelajaran berharga:

Anak-anak lebih kuat dari yang kita kira

Kadang kita sebagai orangtua yang terlalu khawatir. Fatih membuktikan bahwa dia mampu beradaptasi dengan lingkungan baru dengan baik.

Melepas anak adalah bagian dari mendidik

Melihat perkembangan positif Fatih dalam waktu singkat membuatku yakin bahwa keputusan memasukkannya ke pesantren adalah langkah yang tepat.

Pesan untuk Orangtua Lain

Bagi orangtua yang sedang mempertimbangkan atau baru saja memasukkan anaknya ke pesantren, aku ingin berbagi:

Dua minggu pertama memang berat, terutama bagi ibu yang sangat dekat dengan anak. Tapi percayalah, anak-anak memiliki kemampuan adaptasi yang luar biasa. Yang penting adalah kita memilih lembaga pendidikan yang tepat dan memberikan dukungan penuh kepada anak.

Kunjungan pertama ini bukan hanya untuk melihat kondisi anak, tapi juga untuk meyakinkan diri kita sendiri bahwa keputusan yang kita ambil sudah tepat.

Pulang dengan Hati Tenang

Jelang ashar waktu kunjungan berakhir. Karena setelah sholat ashar, mereka ada jadwal wirid petang. Sebelum ashar, kami sudah beres-beres mau pulang. Tidak ada banyak air mata seperti dua minggu lalu. Meski mata masih berkaca-kaca. Yang ada adalah senyum bangga dan janji untuk bertemu lagi di kunjungan berikutnya.

Fatih melambaikan tangan dengan percaya diri. Dia tak mau menoleh ke belakang. Kami membekalinya dengan beberapa makanan yang kami siapkan dari rumah.

Perjalanan pulang kami dipenuhi rasa syukur dan bangga. Istriku yang datang dengan penuh rasa penasaran, kini tersenyum lega. Dan kami bangga melihat perkembangannya.

Refleksi Akhir

Setiap anak punya waktu dan caranya masing-masing untuk tumbuh dewasa. Kunjungan pertama ini mengajarkan kami bahwa kepercayaan kepada anak dan lembaga pendidikan yang tepat akan membuahkan hasil yang indah.

Semoga pengalaman ini bisa menjadi inspirasi bagi orangtua lain yang sedang dalam perjalanan serupa.

Post Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *