Perjalanannya melewati laut, meskipun lautnya tak sebiru langit, tapi tetap memancarkan pesona tersendiri. Jauh dari pandangan beberapa nelayan sedang mencari ikan. Sampai ke pusat Desa kira-kira jam setengah dua, kami tidak bisa langsung menuju lokasi kegiatan tapi harus menunggu sampai jam 5 sore. Jelang sore kusempatkan mengambil gambar beberapa makhluk kecil.
Baru jam 5 sore kami bisa melanjutkan perjalanan dengan speedboat yang kami sewa di Tembilahan. Dari ibu desa perjalanan sekitar setengah jam lebih. Di perjalanan masih ketemu monyet, sepertinya sedang menikmati petang. Nyampai Parit Selamat, airnya masih surut. Setelah berdiskusi dengan kawan-kawan yang ikut, kami putuskan untuk berjalan menyusuri pantai lumpur. Badan tenggelam sampai paha, inilah resiko punya badan yang tidak kecil, saat ini berat badanku tidak kurang dari 100 kg, malah mungkin banyak lebihnya. Nyampai lokasi ternyata kami belum bisa naik ke daratan, karena pasang nya belum sampai. Sehingga kami terpaksa jalan di lumpur. Melewati beberapa jembatan kecil. Akhirnya sampailah ke lokasi pembangunan tanggul. Cukup melelahkan..
Beberapa kali harus berhenti, sekaligus memastikan GPS tetap berjalan dengan baik. Tanah yang dilalui masih basah karena baru digali untuk pembuatan tanggul. beberapa kali harus membersihkan sepatu dan istrahat sejenak. Perjalanan kami lanjutkan sampai kira-kira jam setengah delapan malam. Pulang dari lokasi kami masih menyempatkan untuk mampir ke ibu desa untuk bersih-bersih dan sholat sebelum kami melanjutkan perjalanan pulang.


