Kisah Mengantar Si Sulung ke Pesantren
Refleksi seorang ayah saat melepas anak sulungnya ke pesantren. Sebuah cerita tentang rindu dan keteguhan hati.
Pagi ini aku kembali mengantar Aqila ke sekolah. Hari ini genap satu minggu sejak kami mengantarkan si sulung ke pesantren. Pulang dari mengantar Aqila, aku duduk sendirian di halaman rumah—sudut yang dulu ramai dengan seruan “Ayah!” dari seorang anak laki-laki yang kini tak lagi kudengar.
Sejak kami pindah ke rumah ini, Fatih sering terlibat dalam urusan bersih-bersih halaman. Kini, setiap kali melihat halaman itu, aku teringat kebersamaan kami. Aku melangkah masuk, memandang ruang tamu dengan kursi hijau sederhana—tempat favoritnya untuk bersantai dan menyendiri.
Perpisahan yang Mengajarkan Rindu
Bagi kami, keputusan memasukkan anak ke pesantren bukan hanya soal kemauan. Tapi keinginan untuk memberi kesempatan dia belajar dengan lebih baik, tumbuh dengan disiplin yang tak sekadar slogan. Namun keyakinan itu tak menghapus rasa rindu. Justru, dari ketidakhadiran itulah kami belajar merindukan. Berpisah jauh dan lama dari anak adalah hal baru bagi keluarga kecil kami.
Setiap melihat tumpukan galon air di ruang tamu, aku teringat Fatih yang selalu mengangkatnya ke dapur. Suara teriakannya yang dramatis kini menjadi suara yang paling kami rindukan. Saat azan berkumandang, tak ada lagi yang kuajak sholat berjamaah di masjid.
Energi yang Tak Tergantikan
Dua anak perempuan kami masih menyertai di rumah ini, menghadirkan kehangatan dengan cara mereka sendiri. Namun, tidak sepenuhnya mengisi ruang yang ditinggalkan oleh si sulung. Setiap anak membawa energi uniknya, dan itulah yang membuat setiap kehadiran begitu berharga.
Dari jendela ruang tamu, aku melihat teras dan halaman rumah, tempat di mana dulu kami menyaksikan keributan kecil sebelum anak-anak berangkat sekolah. Rutinitas mengantar Fatih dan adiknya menjadi momen kebersamaan di pagi hari. Terlebih menjelang kelulusannya, ia lebih senang diantar daripada harus bersepeda ke sekolah sendiri.
Melepaskan untuk Terbang Lebih Tinggi
“Tidak semua cinta harus dipeluk erat. Terkadang ia harus dilepaskan untuk terbang lebih tinggi.”
Perpisahan sementara ini adalah bagian dari fase tumbuh kembang yang harus kami jalani sebagai orang tua. Ada rasa haru, rindu, dan bangga yang bercampur menjadi satu mengiringi perjalanannya. Kami percaya melalui perjalanan ini, Dia akan terbang lebih tinggi, membawa doa-doa kami di setiap langkahnya.
