Fatih kini berusia lima tahun lebih. Rasanya seperti baru kemarin aku menggendongnya di halaman rumah dan memegang tangannya yang mungil. Kini dia mulai gemar bertanya. Sesekali juga dia mengutarakan pendapat sendiri. Ia mulai terampil mengingat jenis kendaraan. Dia juga mulai memahami konsep waktu. Dia mulai menagih janji-janji yang pernah kuucapkan.
Seiring bertambah usianya, aku tersadar akan satu hal penting bahwa waktu intens bersamanya mungkin tidak akan terlalu lama. Sejak jauh hari, aku dan ibunya memang sudah merencanakan bahwa setelah menamatkan sekolah dasar, kami akan memilihkan pesantren (boarding school) untuk lanjutan pendidikannya.
Transisi Menjadi Seorang Abang
Sejak kelahiran Aqila beberapa bulan lalu, perhatian bunda tak lagi sepenuhnya tertuju padanya. Sebagai anak sulung, Fatih melalui masa transisi yang tak mudah. Dari “satu-satunya” sekarang sudah harus menjadi seorang abang. Sebuah peran baru baginya. Di bulan-bulan awal kelahiran adiknya, kami ingin memastikan bahwa dia tidak merasa tersisih dengan kehadiran adiknya. Aku berusaha menyeimbangkan hal itu dengan lebih sering mengajaknya keluar untuk sekadar olahraga sore atau hadir bersamanya di acara keluarga.
Akhir pekan itu, aku mengajaknya mencoba sesuatu yang baru. Kami menyewa sebuah sepeda tandem. Sebuah sepeda panjang dengan dua sadel dan dua set pedal. Sepertinya ini adalah sepeda yang dirakit untuk bersantai. Fatih duduk di belakang sedangkan aku duduk di depan sambil mengendalikan sepeda. Dengan kaki mungilnya dia mencoba mengayuh pedal yang memang agak sulit dijangkau. Tak terdengar keluh kesahnya. Dia justru tertawa dan sesekali berseru, “Abang bantu ayah ya!”.
Dari ekspresinya, aku bisa merasakan kegembiraanya bisa membantu ayahnya. Di atas sadel sepeda itu, aku mengajaknya belajar tentang kontribusi, kolektivitas, dan percaya diri. Mudah-mudahan pengalaman semacam ini membentuk fondasi kejiwaannya meski dia belum paham sepenuhnya. Setidaknya aku berharap dia tetap merasa diperhatikan, disayangi dan ditemani.
Persiapan Masa Depan
Tahun depan, Fatih akan masuk Sekolah Dasar. Baginya sekolah adalah hal baru yang tak hanya menuntut kemampuan akademik, tapi juga kemampuan bersosialisasi. Dia belajar berteman, bersaing secara sehat, mengungkapkan perasaan, dan menghadapi konflik kecil yang akan muncul seiring bertambah usianya.
Aku ingin lebih banyak terlibat dalam momen-momen sederhana kesehariannya seperti bersepeda, membaca buku, main lego bahkan ketika dia berinteraksi dengan smartphone yang tentu saja menjadi tantangan baru orang tua di era ini. Dari hal-hal tersebut aku berharap tumbuh rasa percaya diri pada dirinya dan momen untuk membangun ikatan batin yang kuat.
Kenangan tak Terlupakan
Sore itu, kami memutari Jalan Swarna Bumi beberapa kali putaran. Sepeda tandem itu mungkin hanya kami sewa sejam, tapi untuk Fatih, mungkin itu akan menjadi cerita yang dia ingat seumur hidup. Meski sekarang dia harus berbagi perhatian kami dengan adik kecilnya, kami ingin dia tetap merasa penting dan diperhatikan.
