KISAH TIGA KUCING DAN MANGKUK REZEKI

  • 2 min read
  • Jan 12, 2017
KISAH TIGA KUCING DAN MANGKUK REZEKI

Di suatu pagi di dapur rumah, aku menyaksikan tiga ekor kucing duduk mengelilingi satu mangkuk makan. Meski mereka berbeda warna, jenis dan usia, mereka tetap tenang menikmati makanan di depan mereka. Tak ada suara rebutan, tak ada tatapan marah. Seekor kucing dewasa tampak tenang mengunyah, sementara dua yang lain menunggu dengan sabar sembari perlahan menikmati gilirannya.

Pemandangan ini sebenarnya adalah pemandangan sehari-hari yang kulihat. Mungkin nyaris tak berarti bagi sebagian orang. Tapi bagiku, ini adalah pengingat tentang kehidupan. Kadang, hidup menyiapkan pelajaran di balik momen-momen di pojokan yang nyaris tak terlihat. Seperti ketiga kucing ini, yang tanpa perlu bahasa, mengajarkan makna kebersamaan dan toleransi. Si tua dan si muda duduk bersisian, bukan untuk berkompetisi, tapi untuk berbagi.

Bukan karena berlimpah

Kadang terbersit dalam benak kita bahwa berbagi itu soal kelimpahan. Padahal tak selalu begitu. Seperti isi mangkuk yang tak banyak namun cukup untuk mereka bertiga. Dan bukan tentang siapa yang duluan, tapi siapa yang mau menunggu dan mendahulukan yang lain.

Mangkuk perak yang kubeli beberapa hari yang lalu itu jadi saksi bahwa kebaikan berbagi ada di panggung sederhana yang kadang luput dari apresiasi manusia. Tak ada senioritas dalam berbagi. Tidak ada gelar yang menjadikan kita lebih utama dalam kebaikan. Yang tua dan muda bisa duduk bersama, menanggung kesusahan bersama, dan mengunyah makanan terakhir bersama-sama pula.

Jeda yang Kita Butuhkan

Barangkali di tengah kesibukan kita menikmati hidup, kita perlu jeda. Kita perlu duduk seperti mereka, menengok kiri dan kanan, lalu bertanya: “Adakah yang bisa kubagi hari ini untuk orang-orang di sekitarku?”

Tiga kucing itu tak sedang mengajari kita bagaimana menjadi sosok cerdas. Mereka hanya menunjukkan cara menjadi makhluk yang sabar menikmati pemberian secara bersama-sama. Karena memang rezeki tidak pernah salah alamat. Dia mencari takdirnya.

Maka dari itu, mari kita belajar untuk lebih akur, lebih sabar dan lebih percaya bahwa Rezeki Allah memang tak pernah terbatas. Apa yang kita bagi sejatinya tak pernah mengurangi. Ia hanya ujian untuk tetap berfikir positif bahwa rezeki dari Allah sudah diatur.
Post Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *