DULU DAN SAAT INI

  • 1 min read
  • Jul 01, 2024

Dulu, ia begitu lugu. Belum banyak tahu, belum kenal banyak hal. Wajahnya bersih dari beban, pikirannya sederhana, hidupnya hanya berisi tawa kecil dan tangisan. Hari ini, mereka telah banyak berubah. Mereka belajar banyak hal, perlahan sudah bisa memahami apa itu keinginan dan kenyataan. 

Dulu ia hanya diam dalam pelukan ; hangat, tenang, dan nyaman. Seiring waktu berjalan. Kini ia lebih suka berlarian, menjelajah, mengejar hal-hal yang membuat matanya berbinar. Pelukan yang dulu jadi rumah, kini hanya singgahan saat lelah. Ia tumbuh menjadi lebih berani, tak ingin lagi terus digendong. Ia terus melangkah dengan kakinya sendiri.

WAKTU TIDAK PERNAH MENUNGGU

Inilah kenyataan yang sering terlupakan : waktu tidak pernah menunggu. Ia berlari, tanpa menoleh kanan kiri apalagi ke belakang. Ia tak peduli siapa yang masih berlama-lama dengan masa lalu. Ia terus maju, membawa perubahan yang tak bisa dihentikan.

Setiap anak akan tumbuh dewasa. Perlahan, ketergantungan mereka pada kita akan semakin berkurang. Suara rengek itu akan hilang, digantikan oleh kritik, masukan bahkan beda pendapat. Perlahan mereka akan menjauh. Bukan karena tak cinta, tapi karena memang begitu jalannya.

PELUKAN YANG MENJADI KENANGAN

Pelukan yang dulu erat perlahan menjauh bahkan suatu saat  akan jadi kenangan. Tugas kita bukan untuk menahan mereka tetap kecil dan berada di sekitar kita, tapi membekali mereka agar siap tumbuh menghadapi dinamis dan “kejam” nya dunia.

Waktu bukanlah musuh. Ia hanya menjalankan perannya. Tugas kita adalah menerima setiap siklus yang terwujud dari perjalanannya dan mengerti bahwa setiap fase akan berganti. Dan pada akhirnya kita harus menerima bahwa kita harus melepas sedikit demi sedikit sampai kesempatan itu benar-benar berakhir.

 

Post Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *