Kita hanya menunggu waktu, saat daun dan patahan ranting itu gugur satu persatu, seolah menyuarakan keluh kesah mereka atas kelalaian kita.
Gugur Satu Demi Satu
Awalnya, gugurnya satu helai daun terasa biasa saja. Angin berhembus, hari dan pekan berlalu, dan kita merasa semua masih wajar. Lalu satu ranting patah, diikuti yang lain. Tapi karena pohon itu masih berdiri, kita diam saja. Kita tak sadar bahwa ia diam-diam sedang menuju kematiannya.
Pohon yang Diabaikan
Dalam hidup ini, banyak hal yang rusak bukan karena bencana besar, tetapi karena abai yang terus-menerus. Seperti pohon itu—bukan karena petir menyambar,—melainkan karena tak ada yang menyiram dan menjaga. Ia tak mati dalam sekejap, tapi sekarat sedikit demi sedikit. Dan kita hanya menyaksikan tanpa mengupayakan apa-apa.
Metafora Pohon dalam Kehidupan
Pohon adalah simbol kehidupan. Ia bisa menjadi potret dari sebuah hubungan, keluarga, komunitas, nilai, bahkan peradaban. Ketika ia tumbuh, rindang daunnya meneduhkan. Akarnya menguatkan tanah, pondasi tempat ia tumbuh. Namun, saat kita abai terhadap perawatannya, ia mulai meranggas. Daunnya kering, rantingnya patah. Dan satu per satu, bagian terbaik dari tubuhnya gugur ke bumi.
Hubungan yang tak dijaga akan berubah menjadi asing. Keluarga yang tak dipupuk kasih sayangnya akan menjadi rumah yang sunyi. Dan peradaban yang tak dijaga akan menjadi reruntuhan yang ditinggalkan generasi penerusnya.
Bangsa yang besar bukan hanya tentang kejayaan di masa lampau. Dalam pelajaran sekolah, kita digiring untuk bangga dengan sejarah masa lampau, tapi tak pernah diajak untuk benar-benar terampil merefleksikannya dalam hidup di zaman ini. Kita terampil mengutip kata-kata berharga dari para pendahulu, tapi tak banyak yang bisa kita terapkan untuk mempersiapkan masa depan.
Di Mana Perhatian Kita?
Apakah kita masih peduli pada bumi tempat kita berpijak? Ataukah kita terlalu sibuk dengan gawai dan abai menengok tanah tempat kita tumbuh?
Anak-anak bangsa bukan hanya penerus, tapi penjaga keberlangsungan peradaban. Bila mereka hanya apatis maka peradaban ini akan menjadi pohon tua yang perlahan mati. Kita butuh generasi yang tak hanya bangga menjadi bangsa ini, tapi juga bersedia merawat dan menghidupkannya. Yang buruk kita tinggalkan, yang baik kita tingkatkan dan lanjutkan.
Sebelum Daun Terakhir Itu Jatuh
Bencana tidak selalu datang dengan suara gemuruh tiba-tiba. Kadang ia datang dalam sunyi melalui apatisme yang terwarisi dan hilangnya rasa memiliki. Maka sebelum pohon itu benar-benar mati, sebelum daun terakhir itu jatuh, mari kita kembali belajar peduli dan mencintai.
