Gagal itu hanya menggelitik bukan menjatuhkan
Ada kalanya dalam hidup kita merasa seraya bergumam dalam hati : “Aku sudah berusaha maksimal, masa masih gagal juga?” Kita lupa, dalam hitung-hitungan kehidupan, usaha manusia itu hanya salah satu variabel—penentunya tetap Pencipta Alam Semesta.
Kegagalan yang datang sesekali itu seperti senggolan kecil. Atau mungkin lebih tepatnya, cubitan lembut. Bukan untuk menyakitkan, tapi untuk menyadarkan. Bahwa terkadang kita terlalu percaya diri pada rencana yang kita buat, seolah semesta harus selalu ikut kata kita, padahal banyak variabel di luar sana di luar kendali kita.
Terlalu Percaya Diri
Saat sedang merasa on fire, merasa semua jalan terbuka lebar, kita sering lupa siapa yang membukakan jalan itu. Kita merasa sudah bekerja keras dan disiplin. Tapi ketika hasil tak sesuai harapan, secepat itu kita merasa dunia tidak adil.
Padahal pada momen itu, kita hanya sedang diajak turun sebentar dari panggung. Untuk istirahat sekaligus mengingat siapa yang punya kendali utama atas jalannya hidup kita.
Kegagalan bukan musuh
Gagal itu tak selalu identik dengan kebodohan. Bukan juga berarti kita malas. Kadang kegagalan itu muncul di titik paling tak terduga, justru saat kita merasa sudah melakukan segalanya dengan benar dan tak ada yang tertinggal.
Dan di situlah letak pelajarannya ; kita tidak pernah benar-benar mengendalikan hasil. Kita hanya diberi tugas untuk optimal berusaha.
Jeda Sejenak lalu lanjutkan
Jika hari ini kamu sedang di fase gagal, tidak apa-apa. Mungkin ini bukan waktumu bersinar. Mungkin ini waktumu untuk merenung, lalu merapikan lagi niat dan arah.
Tak sedikit kegagalan yang justru menyebabkan orang lebih mendekat kepada Rabb-Nya. Sebaliknya tak sedikit pula yang justru kehilangan kemampuan bersyukur justru saat berhasil mewujudkan impiannya.
Gagal itu bukan titik. Ia hanya koma dalam cerita panjangmu. Bukan untuk mengakhiri langkah, tapi untuk mengatur ulang irama sekaligus trigger untuk lebih dekat kepada Sang Maha Pencipta.
