Lalu bandingkan dengan sikap kita yang masih jauh dari rasa kasih dan sayang sebagaimana yang telah allah ajarkan kepada kita semua. Yang ada hanyalah hawa nafsu yang dikedepankan, kekikiran dan kesombongan. Ada Tiga Perkara yang membinasakan yaitu hawa nafsu yang dituruti, kekikiran yang dipatuhi, dan seorang yang membanggakan dirinya sendiri (HR Ath Thabrani).
Perkara pertama adalah hawa nafsu yang dituruti. Merenung sejenak bagaimana hawa nafsu sudah mengalahkan keimanan kita setahun terakhir ini bahkan mungkin beberapa tahun sebelumnya. Sebagian orang atau bahkan kadang kita sendiri yang merasa nyaman ketika mempergunjingkan satu sama lain, Sebaliknya merasa gelisah ketika tak punya pelampiasan untuk membuka satu persatu aib saudara sendiri. Padahal allah telah tetapkan bahwa pergunjingan merupakan dosa besar, karena dia merusak persaudaraan, menyia-nyiakan waktu produktif dan pada akhirnya menyeret kita pada derajat terendah di sisi allah SWT. Mengenai hukum haramnya ghibah, dalilnya sudah sangat jelas sekali baik yang terdapat dalam Al-Qur’an, hadist Nabi dan kesepakatan ulama. Tapi lihat bagaimana orang-orang kafir dengan segala kreatifitasnya mengubah pemahaman sebagian muslim melihat sesuatu yang haram menjadi sesuatu yang lumrah dan biasa. Baru dari ghibah saja, banyak yang bisa kita renungi. Coba bayangkan sejenak ketika penyakit ghibah ini dapat hilang dari masyarakat kita, atau setidaknya dari orang-orang terdekat kita, Akan banyak ide-ide brilyan yang lahir dari pembicaraan-pembicaraan berkualitas yang jauh dari ghibah. Akan banyak waktu-waktu produktif yang bisa dimanfaatkan untuk melahirkan karya-karya besar. Subhanallah,
Perkara kedua yang membinasakan adalah kekikiran yang dipatuhi. Allah berfirman “Dan barang siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya , maka mereka itulah orang-orang yang beruntung “(Ath Thagabun : 16). Begitulah Allah menggambarkan kekikiran sebagai bentuk kerugian pada manusia. Barang siapa yang bakhil, tidak mau mengeluarkan infak, zakat, ataupun sedekah di jalan Allah, maka sesungguhnya mudharat yang akan diterima karena telah bakhil. Dan kebakhilan akan kembali kepada diri kita sendiri. Karena hal tersebut yang menghalangi pahala dan balasan dari Allah yang tentunya jauh lebih besar dari apa yang kita keluarkan. Sebagaimana salah satu hadis Rasulullah SAW “Tiadalah datang pagi hari yang dilalui seorang hamba Allah, melainkan ada dua malaikat turun. Salah satunya berdoa, Ya Allah berilah ganti (yang lebih baik) baik orang yang berderma. Sedangkan satu malaikat lagi berdoa, Ya Allah, timpakanlah kebangkrutan atas orang yang menahan pemberian ” (HR. Bukhari). Orang awam memandang bakhil adalah sifat buruk biasa, tapi sebenarnya ini adalah konsekuensi keimanan kita. Kebakhilan adalah kegagalan kita dalam memahami prinsip kepemilikan. Pada dasarnya kita tidak memiliki apa-apa. Semuanya allah yang berikan sebagai ujian bagi kita. ” Kepunyaan Allah ialah segala yang ada di langit dan di bumi, dan kepada Allahlah dikembalikan segala urusan. ” (Ali-Imran : 109). Ketika orang sudah memahami bahwa apa yang dimilikinya merupakan titipan dari Allah, maka dia akan senang hati berbagi dengan sesama.
Perkara ketiga yang tak kalah pentingnya dalam rangka membinasakan kita adalah membanggakan diri sendiri atau dalam bahasa yang lebih mudah dipahami adalah kesombongan. Inilah potensi fitnah atas kelebihan yang Allah berikan kepada kita. Ketika merasa lebih maka terdorong untuk merendahkan. Ketika merasa berpunya maka mengabaikan yang tidak berpunya. Kesombongan sebenarnya lahir dari persepsi yang salah atas kepemilikan. Ada orang yang sombong karena kedudukannya, ada yang sombong karena kekayaannya, ada yang sombong karena kepintarannya. Padahal semuanya adalah milik Allah dan Allah titipkan kepada kita agar kita bersyukur dan mau berbagi kepada sesama. Ketika suatu saat kita dianggap tidak amanah terhadap “nilai lebih” yang Allah berikan kepada kita, bisa saja Allah putuskan untuk mengambilnya kembali. Kesombongan tidak semata-mata aktifitas lisan tapi dia tersembunyi dalam hati. Disini letak bahayanya kesombongan. Ketika hati sudah terbiasa dengan kesombongan maka orang sudah tidak akan menyadari lagi kesombongan mereka, Padahal kesombongan inilah yang akan menjauhkan kita dari surga-Nya Allah.
Pada akhirnya kita meminta kepada Allah agar ketiga hal tersebut dijauhkan Allah dari kita, dan pergantian waktu hendaknya kita sadari sebagai momentum untuk berbenah diri, mematangkan sikap dan pemikiran dan pada akhirnya kita memohon kepada Allah agar kita menjadi orang-orang yang mengakhiri hidupnya dengan baik (husnul khotimah) sehingga bisa bertemu Allah dan Rasul-Nya.
