Selepas salat Idulfitri esok pagi, ada anak yang tidak langsung pulang ke rumah. Ia bergegas ke tempat lain, ke tempat yang tak ada sajian ketupat, tak ada canda tawa, tapi justru di situlah hatinya tertambat. Ia menuju pemakaman—untuk ‘berlebaran’ dengan seseorang yang sangat ia rindukan.
Sudah 16 tahun berlalu sejak Ramadhan terakhir itu. September 2009 menjadi saksi idul fitri terakhir kami bersama ayah. Sebulan penuh berpuasa, lalu bersiap menyambut lebaran, tapi siapa sangka saat itu adalah idul fitri kami terakhir bersama ayah. Idulfitri yang tak pernah sama lagi sejak kepergian beliau.
Ayah, lebaran tahun ini di rumah jauh lebih ramai. Keluarga kita sudah semakin ramai, ada 8 orang cucu di rumah ini. Mereka berlarian di ruang tamu dan halaman, tawa bersahut-sahutan. Tapi di antara semua itu, tetap ada satu ruang kosong yang tak tergantikan—ruang rindu yang diam-diam tumbuh di momen-momen seperti ini.
Kami masih mengenang caramu tersenyum saat menyambut tamu. Cara dudukmu di sudut ruangan sambil tilawah qur’an dengan songkok hitam yang tak pernah lepas. Kami masih ingat bagaimana bagaimana tanganmu terasa hangat saat kami menciuminya sambil meminta maaf.
Kini, kami hanya punya ibu. Ia lebih kuat dari yang bisa kami bayangkan. Di wajahnya, lelah dan syukur berbaur jadi satu. Ia selalu bilang: “Ayahmu akan senang melihat kalian kompak dan terus bersama.” Dan kami pun mencoba menjadikan kebersamaan ini sebagai warisan terindah dari beliau.
Bagi kami, Lebaran adalah tentang kembali berkumpul. Kembali ke rumah, kembali ke keluarga, dan juga kembali ke kenangan yang pernah membuat hati utuh.
