MEMANGGIL DAN DIPANGGIL AYAH

  • 2 min read
  • Mei 13, 2025
Memanggil dan dipanggil ayah

Dulu, kami memanggilnya “Ayah” dengan tawa yang ringan dan pelukan hangat. Sosoknya adalah sandaran sekaligus penyangga dalam kehidupan kami—tenang, kuat, dan penuh perhatian, meski sering kali disembunyikan dalam diam. Kami adalah dua anak laki-laki yang tumbuh dalam kasih sayangnya, yang kadang bahkan tak sempat terucap, tapi terasa dalam kesungguhannya bekerja dan melindungi kami tanpa banyak kata.

Waktu terus berjalan. Kami tumbuh dan dewasa lalu perlahan menjadi ayah bagi anak-anak kami sendiri. Tapi sebelum semua itu terjadi, kehidupan mengambil satu bagian penting dari kami: Ayah pergi, meninggalkan ruang yang tak bisa digantikan oleh siapa pun, seberapa pun kami berusaha keras mengisi hari-hari dengan kebahagiaan baru dan rutinitas harian yang melelahkan.

Kini, kami hanya menyebutnya dalam doa. Suara yang dulu direspons dengan lirih suaranya, kini hanya bergema dalam sanubari. Kami tidak lagi bisa memeluknya, tapi dalam pelukan kami kepada anak-anak kami, ada warisan kasih sayang yang dia tanamkan. Dalam cara kami menggendong, menatap, bahkan menegur anak-anak kami, ada bagian kecil dari dirinya yang hidup kembali.

Kami adalah pria dewasa sekarang. Tapi tetap saja, ada saat-saat tertentu—di malam yang sepi, dalam tawa anak kami, atau saat duduk sendiri setelah hari yang panjang—kami kembali menjadi anak kecil yang merindukan pelukan seorang ayah. Ruang kosong itu ada di sana, meski bukan sebagai luka yang terus berdarah, tapi sebagai bagian dari diri kami yang tak pernah benar-benar sembuh karena memang luka karena kehilangan tak perlu disembuhkan.

Ia adalah ruang kenangan yang kadang bisa kita gunakan untuk penyemangat.

Ayah mungkin telah pergi secara fisik, tapi warisan nilainya tetap tertinggal. Dalam nilai yang kami pegang, dalam keputusan yang kami buat saat ragu—semuanya ada jejaknya. Kami terus berjalan di dunia ini, membangun rumah, keluarga, dan masa depan. Tapi di dalam hati kami, selalu ada satu tempat kosong yang tak bisa tergantikan.

Post Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *