IA YANG TAK PERNAH PERGI

  • 3 min read
  • Jun 28, 2025
Keluarga berdiri bersama di tengah sawah saat sore hari, potret kehangatan rumah tangga sederhana dan penuh cinta.
Ia yang Tak Pernah Pergi
Dalam cerita rutinitas sehari-hari, ada sosok yang selalu hadir di sisi kami semua. Ia tempat pulang bagi seluruh anggota keluarga, bahkan ketika dunia di luar sedang tidak ramah.

Ketika Sawah Menjadi Latar Belakang Foto kami

Foto ini kami ambil dari tengah hamparan sawah—tempat yang sebenarnya hijau namun menguning karena sinar matahari senja. Ada hijau tanaman padi. Ada kuning kemerahan yang menandakan senja akan segera datang. Ada istriku dengan pakaian sederhana dan tatapan kasih sayang untuk anak-anaknya. Hadirnya bersama anak-anak tentunya jauh lebih banyak dibandingkan aku

Rumah yang Selalu Ramai

Sering kali, kita membayangkan “kegiatan” itu selalu berisik. Meeting, presentasi, deadline, dan istilah lain yang membuat kita merasa penting. Namun rumah memiliki karakter berbeda: meski kadang jauh dari hingar bingar, ia tidak pernah diam sepenuhnya.

Ada suara gelas, piring, tawa, dan tangis yang sesaat kemudian berubah menjadi pelukan. Ada langkah kaki kecil yang berlari sambil memanggil “bunda, mami, mama…” lalu jatuh ke pelukannya tanpa peduli lelah dan letih.

Bunda—begitu aku dan anak-anak memanggilnya—hadir sepenuhnya dalam keseharian kami. Dalam hal-hal kecil yang menjadi besar kalau ditinggalkan: menyuapi, memandikan, menyusun baju, mengatur jadwal kami semua. Istriku sekaligus bunda bagi anak-anakku seolah menjadi smart reminder sekaligus smart manager bagi kami para penghuni rumah.

Kesabaran dan Konsistensi: Dua Pilar yang Tak Tergantikan

Yang luar biasa dari para istri bukanlah hanya kesabarannya, tetapi konsistensinya menjalani rutinitas. Ia bangun sebelum yang lain. Ia tidur setelah semua selesai. Tidak pernah pula ia absen, apalagi mengambil cuti tahunan. Tidak ada inspeksi HRD yang memeriksa hasil kerja seorang istri.

Selama ini tidak ada tuntutan ucapan terima kasih, apalagi demo kenaikan gaji. Sementara itu, semakin tua sebuah rumah, semakin peran istri menjadi tak tergantikan. Jika semua peran itu absen sehari saja, akan ada sesuatu yang hilang di rumah ini.

Cinta yang Berbentuk Tindakan

Pekerjaan rumah bukanlah semata-mata kewajiban perempuan seperti yang kerap digeneralisasi. Ia adalah bentuk cinta dan tanggung jawab yang dilakukan secara sadar dan berulang.

Untuk Istriku

Bisa jadi kamu mungkin merasa tidak begitu berarti, apalagi jika ukurannya dari materi semata. Namun kamu sedang mengerjakan hal yang jauh lebih besar. Yaitu menyiapkan anak-anak yang tangguh di masa depan.

Seorang ibu adalah:

  • Guru yang mengajarkan nilai-nilai dasar kehidupan
  • Manajer Pribadi yang mengatur segala kegiatan rumah tangga
  • Koki yang menyediakan masakan siap saji kapanpun diminta
  • Motivator yang memberikan semangat di saat terpuruk

Semua profesi ini dijalani secara simultan, tanpa libur, tanpa gaji, tetapi dengan cinta.

Apresiasi yang Terlambat

Sering kali, kita baru menyadari betapa berharganya kehadiran seseorang ketika ia tidak lagi di sisi kita. Namun mengapa kita harus menunggu sampai saat itu tiba? Apresiasi tak mengenal kata terlambat.

Penutup: Cinta yang Tak Pernah Pergi

Untuk istriku yang telah 14 tahun membersamai, terima kasih telah bersabar, mendidik, mendampingi, dan mencintai. Terima kasih telah menjadi tempat pulang, bahkan ketika dunia sedang tidak ramah.

Kita sudah sampai di tahun ini dan aku tidak ingin ke mana-mana, selain tetap bersamamu. Karena rumah bukan hanya tentang dinding dan atap, tetapi tentang kehadiranmu yang membuat setiap sudut penuh dengan cinta.

Post Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *