TENTANG CARA

  • 2 min read
  • Jun 25, 2021
perigi raja

Dalam sebuah acara training pejabat eksekutif untuk sebuah perusahaan besar, nara sumber membuka materi pertama dengan sebuah pertanyaan yang cukup menggelitik para peserta. “Menurut kalian hal apa yang paling memotivasi seseorang untuk bekerja dengan baik dan masksimal”. Masing-masing peserta memberikan jawaban yang cukup mengesankan dengan argumentasi yang tersusun sistematis. Meskipun telah banyak teori yang menjelaskan, namun penjelasan para peserta yang dilengkapi studi kasus di lingkungan masing-masing membuat argumentasi yang mereka sampaikan terasa lebih hidup.

Secara umum ada beberapa poin yang paling mendominasi jawaban peserta yaitu bagaimana perusahaan dapat menciptakan ruang kontribusi pemikiran serta masalah penghasilan dan jenjang karir. Meskipun masing-masing peserta menyampaikannya dengan varian kalimat yang berbeda. Ada satu jawaban peserta yang unik dibandingkan yang lain. Peserta tersebut menghubungkan kualitas kinerja dengan keimanan seseorang.

“Orang yang tak ada iman dalam hatinya seumpama orang yang tak takut dengan tuhan. Kalau tuhannya saja tak ditakutinya apalagi cuma atasannya yang cuma manusia”, cetusnya menguatkan argumentasinya. Sepertinya jawaban yang agak unik ini mengundang penasaran sang Nara sumber yang bertanya balik kepada peserta tersebut “bukannya iman sesuatu yang naik turun, bagaimana kita bisa menghakimi iman seseorang lantas menghubungkan dengan cara dia bekerja”. Peserta tersebut melanjutkan argumentasinya “Perumpamaannya kira-kira begini pak. Kalau kita umpamakan dunia kerja itu seperti jalan gelap gulita yang penuh liku, duri dan belokan. Maka seorang yang beriman akan berupaya mencari senter atau sumber cahaya lain untuk membantunya. Tentu saja kita sepakat bahwa peluang jatuh, tergelinci atau salah jalan bagi orang yang membawa senter akan lebih kecil dibanding dengan orang yang berjalan tanpa mengusahakan apapun.”

“Seorang pekerja yang ada iman dalam hatinya tak hanya berfikir tentang apa yang akan diraihnya di esok hari. Fokus utamanya adalah bagaimana dia menjalani hari ini agar penghasilan yang diperolehnya benar-benar pantas diterimanya. Jadi motivasinya tak hanya sekedar ingin diapresiasi atasan, atau kenaikan gaji. Jadi bukan semata-mata tentang seberapa banyak hasilnya. Ini tentang bagaimana cara kita mengambilnya. Karena cara kita mengambilnya inilah yang kelak akan kita pertanggungjawabkan dan itu pulalah yang menentukan nilai dari apa yang kita peroleh. Dan jawaban saya ini juga tidak bertujuan mengabaikan faktor-faktor lain yang telah disampaikan peserta yang lain.”

“OK, saya sepakat. Nanti kita ngobrol-ngobrol lagi” tutup nara sumber sambil membuka slide tayangan materi.

Post Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *