GOWES PAGI BERSAMA FATIH

  • 2 min read
  • Jan 30, 2016

Pagi itu, setelah sholat subuh, aku memutuskan mengajak Fatih jalan-jalan pagi. Aku menggunakan sepeda Bunda karena ada boncengannya. Beberapa hari yang lalu aku baru memasangkan pengaman pijakan kaki sehingga Fatih lebih nyaman duduk di belakang.

Ahad pagi yang begitu lengang dan jalan masih kosong. Matahari baru terbit, kami mampir ke Masjid Darul Hikmah, Fatih mau mampir ketemu kakek. Setelah ngobrol sebentar dengan kakek, kami melanjutkan perjalanan. Kami menyusuri Jalan Telaga BIru yang panjang, melintasi beberapa jembatan yang menguras energi.

Pagi ini, aku sengaja mengajak Fatih, perlahan-lahan mengenalkan dia dengan dunia luar. Tahun ini genap usia nya 3 Tahun, artinya tahun ajaran ini, sebenarnya dia sudah bisa mengikuti kegiatan di PAUD. Kami masih melihat kesiapannya. Jadi selain berolahraga, momen seperti ini juga bisa kujadikan kesempatan untuk bisa lebih dekat secara emosional dengannya. Kayuhan perlahan terasa tak begitu melelahkan. Fatih masih banyak bertanya sembari melihat sekeliling apa yang lia lihat. Dibanding Sepeda Motor, Bersepeda membuatnya lebih banyak waktu menyaksikan panorama jalan.

Bagiku jalan-jalan ini mungkin biasa saja, karena sudah ribuan kali melewatinya. 3 Tahun bersekolah di SMU waktu itu membuatku sangat sering melewati jalan ini, baik untuk pergi sekolah maupun gotong royong sore di sekolah. Hal ini pun sempat kuceritakan ke Fatih. Dia mulai bertanya mengenai apa itu sekolah dan dunia lain mengenai sekolah

Momen kecil seperti ini sesungguhnya bukan semata tentang olahraga tapi investasi emosional bagi anak-anak. Waktu kanak-kanaknya tak kan lama. Dan itu yang kusadari sehingga dalam hal olahraga pun, aku ingin melibatkannya. Selain ingin memperkenalkan nya tentang alam sekitar dan latihan fisik, aku berharap kenangan ini akan jadi ceritanya bertahun-tahun kemudian. Kalaupun dia tak bisa mengingatnya, setidaknya tulisan beserta foto ini, bisa membantu.

Hidup tak hanya tentang memanfaatkan waktu secara efektif dan efisien, tapi juga waktu yang berkualitas. Aku tak ingin sekadar hadir secara fisik — tapi hadir sebagai ayah, yang mendengar, meresapi, dan menikmati setiap momen kedekatan dengannya.

Sesekali dia tertawa, ketika aku bercerita hal-hal lucu kepadanya. Hal-hal yang mungkin receh dilihat dari kacamata orang dewasa. Bisa jadi lucu dan mengesankan baginya. Beberapa jenis mobil menarik perhatiannya. Dia menanyakan jenis beserta namanya.

Tak terasa kayuhan sepeda, membawaku ke Parit 6. Tempat yang bagiku semacam batas kota. Pulangnya kami mengambil rute yang berbeda. Kami melewati makam pahlawan kemudian pulang melewati panorama sungai indragiri yang mengesankan.

Kami pulang dengan lelah sekaligus senang. Senang karena bisa mengajaknya melihat hal-hal baru secara perlahan. Hal ini sedikit banyak menstimulasi banyak pertanyaan baru darinya.

Post Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *