ZIARAH KE MAKAM TUAN GURU SAPAT

  • 2 min read
  • Jan 12, 2025
kami di makam tuan guru sapat

Beberapa waktu lalu, kami sekeluarga dengan keluarga besar mamak berziarah ke salah satu tempat wisata religi yang cukup dikenal di Kabupaten Indragiri Hilir yaitu Makam Tuan Guru Sapat. Momen perjalanan ziarah ini bukan sekadar kunjungan, tetapi juga menjadi momen sillaturrahim sekaligus meresapi nilai-nilai yang jarang sempat dibicarakan dalam keseharian.

Mengenal Tuan Guru Sapat

Makam ini adalah tempat peristirahatan terakhir Syekh Abdurrahman Siddiq Al-Banjari, seorang ulama besar yang berasal dari Kalimantan Selatan, tetapi menghabiskan sebagian besar hidupnya di Indragiri Hilir, menyebarkan ilmu dan nilai Islam. Beliau dikenal sebagai ulama sufi, penulis produktif, sekaligus penasihat spiritual Kesultanan Indragiri. Jejak dakwahnya masih terasa hingga kini, bukan hanya di masjid atau pesantren, tapi juga di hati masyarakat yang terus menziarahi makamnya dengan penuh hormat. Tak hanya bicara tentang agama, beliau juga aktif di tengah masyarakat ikut mendorong roda perekonomian khususnya terkait perkebunan kelapa.

Ziarah sebagai Momen Refleksi

Bagi kebanyakan orang, ziarah kubur adalah wisata religi. Namun bagiku, ziarah adalah cara untuk mengingat bahwa hidup ini sementara. Waktu berlalu tanpa persetujuan kita dan kita semua sedang dalam antrean menuju akhir. Dalam rombongan besar keluarga kami, ada beberapa anak-anak yang beranjak remaja termasuk anak-anakku.

Makam bukan tempat yang harus ditakuti. Beberapa orang tua menghindari membawa anak-anak ke makam. Tapi bagiku, memperkenalkan mereka pada kematian dengan cara yang baik dan sesuai dengan nilai-nilai agama, justru bisa menumbuhkan empati dan kesadaran akan waktu yang terbatas. Kami membaca doa bersama, mengelilingi kompleks makam. Beberapa orang tua yang kutemui di sana sempat kuajak diskusi membicarakan siapa Tuan Guru itu, apa yang ia perjuangkan, dan mengapa makamnya ramai diziarahi hingga kini. Meski sudah banyak cerita tentang beliau, namun kadang setiap orang punya sudut pandang unik dan menarik.

Saat Anak Lebih Tinggi dari Ayahnya

Ada satu momen yang begitu membekas dalam perjalanan itu. Kami berfoto bersama di pelataran makam yang baru saja direnovasi. Saat melihat hasil fotonya, baru nyadar ternyata si sulungku sudah lebih tinggi dariku. Rasanya baru kemarin aku mengenalkannya pertama kali pada sepeda. Dan kini dia yang menjaga adik-adiknya.

Momen itu mengingatkanku : seperti halnya Tuan Guru yang meninggalkan warisan ilmu dan nilai, setiap orang tua juga sedang mewariskan jejak hidupnya pada anak-anak mereka. 

Post Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *