Meskipun kami berangkat jam 7 pagi dari Tembilahan, tapi perjalanan ke titik lokasi harus menunggu jam 1 siang, karena parit yang akan kami lewati untuk menuju lokasi masih surut, sehingga speed boat yang kami tumpangi tidak dapat melewatinya. Baru jam setengah dua kami menuju titik lokasi dari rumah Pak Kades Sungai Terab. Terdapat jarak kurang lebih 4 km yang harus kami tempuh untuk sampai pada titik ujung tanggul yang rencananya akan dibuat untuk mengatasi air pasang yang semakin tinggi.
Pada titik-titik awal kami masih melihat pohon kelapa yang masih berbuah meskipun di sana-sini genangan air terlihat. Meskipun beberapa diantara pohon kelapa tersebut tidak lagi memiliki postur batang yang normal, tapi masih berbuah.

Dari info yang kami terima melalui petani, meskipun pohon kelapa tersebut berbuah tetapi sebagian besar sudah tidak dapat lagi dinikmati hasilnya karena kualitas buahnya yang sangat buruk. Mendengar cerita mereka seperti melintasi lorong waktu ke puluhan tahun yang lalu, saat kelapa menjadi mata pencaharian utama masyarakat, belum ada genangan air, dan mereka sebagian besar tinggal di kebun-kebun tersebut. Sekarang sebagian dari mereka telah berpindah ke lokasi pemukiman yang dekat dengan pasar.
Ketika langkah yang kami tempuh sudah 2 km lebih, kami mulai menyaksikan batang-batang kelapa tanpa daun apalagi buah. Genangan air hampir merata, sehingga kami seperti melihat danau dengan pohon kelapa diantaranya. Padahal yang sedang kami saksikan adalah hamparan kebun kelapa yang terendam air bukan hanya saat air pasang. Di beberapa titik kami melihat sisa bangunan pondok yang tidak berfungsi lagi.
Saya teringat sebuah istilah dalam ekologi yaitu “suksesi sekunder” yang saya kenal ketika duduk di bangku SMP. Dulu saya kesulitan membayangkan kondisi terjadinya sebuah suksesi sekunder. Setelah melihat salah satu hamparan bekas kebun kelapa di Desa Sungai Terab ini barulah saya dapat melihat contoh nyata yaitu sebuah perubahan yang merusak habitat.
Kami berjalan sambil mendengar cerita dari beberapa orang petani yang menemani perjalanan kami. Umur mereka tak lagi muda tak kurang dari 50 tahun. Mereka mulai berkebun ketika usia mereka belasan tahun. Akhirnya kita berharap ikhtiar yang kita lakukan dapat mengurangi dampak negatif dari perubahan-perubahan yang terjadi pada lingkungan. Dan masyarakat kembali dapat menikmati hasil kebun kelapa sebagai mata pencaharian mereka sehari-hari.
