Ada sisi-sisi dalam diri kita merasa kesepian.. Hal tersebut dikarenakan rutinitas kesibukan yang kita ciptakan sendiri. Di salah satu sisi itu, saya meletakkan sepasang sepatu futsal. Lebih dari setahun lamanya ia di sana, menjadi artefak dari sebuah masa yang terasa begitu jauh padahal baru beberapa ratus hari, ketika napas masih panjang dan lutut masih mau diajak berakselerasi. Istilahnya, “gantung sepatu”. Sebuah keputusan diam-diam yang tak pernah benar-benar kusampaikan, karena menurutku aku hanya penikmat olahraga bukan atlet yang harus mengumumkan kapan dia harus gantung sepatu.
Ketika Rutinitas Menyita Segalanya
Hari-hari berjalan seperti biasanya. Ada pekerjaan yang harus diselesaikan, ada peran-peran baru yang harus dijalani. Lapangan hijau sintetis itu perlahan memudar dari ingatan, berganti menjadi layar-layar monitor dan ponsel, perjalanan menyusuri desa dan tumpukan tugas tenggat waktu. Aku pikir ini biasa dan baik-baik saja. Dan cerita tentang “gantung sepatu itu” memang sudah selayaknya.
Namun, obrolan singkat di pagi 17 Agustus kemaren mengantarkanku kepada keputusan untuk kembali main futsal. Dari obrolan ringan beberapa rekan sekantor, kami memutuskan untuk merayakan 17-an kali ini dengan pertandingan futsal antar ruangan. Sebuah ajakan yang sudah lama tak kudengar “Main futsal yuk.”
Rindu yang Mengalahkan Ragu
Meski ada sedikit keraguan yang melintas, tapi kerinduan buat main rasanya lebih besar dari keraguan itu. Keraguan akan fisik yang mulai menua, stamina yang entah tersisa berapa. Namun rindu pada peluh yang membasahi kaus, pada tawa yang pecah setelah gerakan-gerakan konyol selama permainan, pada rasa lelah yang justru terasa begitu memuaskan.
Maka, hari itu aku merangkai kembali keinginan yang lama terabaikan.
Bukan Lagi Tentang Menang
Menginjakkan kaki kembali di atas lapangan futsal itu terasa seperti pulang dari perjalanan jauh. Tentu, tak sedikit yang berubah. Lari yang tak lagi secepat ketika itu, operan yang seringkali salah sasaran. Napas terasa lebih cepat habis, seolah paru-paru ini sedang memprotesku yang selama ini tak maksimal melatihnya.
Tapi di tengah segala keterbatasan itu, aku masih menemukan sesuatu yang utuh dan tidak berubah: yaitu momen kebersamaan. Kami berlari bukan lagi untuk menang, melainkan untuk menertawakan betapa menuanya kami sekarang. Kami berteriak bukan untuk protes atau marah, melainkan untuk saling menyemangati kaki-kaki yang tak lagi kokoh.
Di sanalah aku sadar. Futsal bukan sekadar tentang olahraga. Futsal menyadarkanku bahwa bahwa ada bagian-bagian dari diri kita yang tak seharusnya kita tinggalkan selamanya. Ada kebahagiaan dan tawa sederhana yang hampir kita lupakan atas nama “prioritas” dan “kerja keras”.
Foto yang terpajang di atas bukanlah potret sebuah tim juara. Itu adalah potret sekumpulan lelaki yang sebagiannya sedang mencoba berdamai dengan waktu dan menertawakan usia. Meski sebagian yang lain masih sangat energik.
Ternyata, terkadang kita hanya perlu berhenti sejenak dari rutinitas dan kerasnya hidup, untuk sekadar menyulam kembali panggilan-panggilan sederhana yang membuat kita merasa lengkap sebagai manusia.
