Triwulan pertama tahun ini menghadirkan sebuah fenomena unik : kebangkitan kembali permainan lato-lato. Mainan sederhana berbentuk dua bola yang saling berbenturan ini tiba-tiba menjadi tren nasional, menggema di halaman rumah, sekolah, dan media sosial. Dari kota sampai ke pelosok desa. Meski bukan barang baru, kemunculannya kembali di tengah era serba digital terasa seperti hembusan angin dan penuh tanda tanya.
Permainan lama
Lato-lato sejatinya adalah permainan lawas. Generasi sebelum era internet mengenalnya sebagai hiburan murah meriah yang menuntut ketekunan, ritme, dan koordinasi. Namun justru dalam kesederhanaannya, lato-lato menawarkan sesuatu yang kini terasa langka: bentuk permainan yang tak bergantung pada layar atau sinyal.
Alternatif di tengah serbuan digital
Tak bisa disangkal, dominasi ponsel pintar telah mengubah cara sebagian anak-anak bermain. Sebagian dari mereka lebih akrab dengan game digital ketimbang permainan fisik yang melibatkan tubuh dan interaksi yang nyata. Dalam konteks ini, kebangkitan lato-lato adalah sebuah peristiwa penting—meski tak signifikan. Ia membuka alternatif, menawarkan kesenangan yang tak bersifat instan, dan memberi kesempatan bagi interaksi nyata antar anak manusia.
Lebih dari sekedar mainan
Lato-lato bukan sekadar alat hiburan analog. Permainan seperti lato-lato tanpa disadari melatih anak untuk membangun resiliensi, yaitu kemampuan menghadapi frustrasi, mengelola kegagalan, serta mempertahankan semangat untuk terus mencoba.
Kembalinya lato-lato memberi kita harapan kecil bahwa permainan tradisional belum sepenuhnya hilang ditelan teknologi. Kita masih bisa menghidupkan kembali permainan tradisional, mengajak anak-anak merasakan tawa, keseruan, dan interaksi sosial. Di era ini, barangkali kita memang tidak bisa sepenuhnya lepas dari ponsel pintar. Setidaknya kita masih bisa memperkaya dunia bermain anak dengan pilihan-pilihan yang lebih seimbang.
