Mungkin inilah salah satu rahasia, kenapa faktor utama yang menentukan keberhasilan para penuntut ilmu bukanlah kepada siapa atau dimana dia belajar, tetapi lebih kepada sikap dan sifat yang dimilikinya dan bagaimana pola pikirnya terhadap nilai-nilai atau ilmu pengetahuan yang ingin dicapainya. Orang-orang yang telah menutup dirinya dengan sifat-sifat buruk, seperti sombong, ujub, merasa lebih baik, meremehkan orang ; mereka ini akan sulit mendapatkan manfaat dari aktifitas menuntut ilmu.
Menuntut ilmu tak mengenal umur serta predikat seseorang. Dimanapun dia, berapapun banyak hartanya, menuntut ilmu merupakan hal yang niscaya untuk dilakukan. Orang boleh saja merasa ketuaan untuk menikah lagi atau punya anak lagi, tapi tak ada istilah ketuaan untuk mulai belajar, baik belajar hal-hal baru maupun pendalaman atas hal-hal yang telah kita ketahui.
Bahasan lain mengenai menuntut ilmu atau belajar, adalah bagaimana membagi hasil belajar kita dengan sesama, bisa keluarga, sahabat, tetangga dan komunitas-komunitas lain yang kondusif. Seringkali kita belajar dari satu atau beberapa sumber, lalu kita sudah merasa banyak tahu dan merasa kebenaran seolah hanya dari apa yang kita pelajari. Dengan berbagi, secara tak langsung kita sudah menguji akseptibilitas dan kebenaran gagasan kita dengan sesama baik dengan para orang tua maupun para anak muda yang usianya di bawah kita. Dengan begitu, kita juga berusaha menjaga jarak dari virus utama para pembelajar yaitu “virus kesombongan” dan merasa keren sendiri yang bisa mematikan gen pembelajar yang ada dalam tubuh kita.

One thought on “KOMPETISI – MENANG ATAU KALAH”