MEMANDANG PUN HARUS ADIL

  • 2 min read
  • Jan 26, 2022

MATA : JENDELA JIWA

Manusia diberi mata yang indah sekaligus fungsional dan fleksibel oleh Tuhan. Dengan keunikannya itu mata bersama telinga menjadi jendela pertama masuknya informasi audio visual untuk kemudian dicerna otak manusia. Otak pula yang memerintahkan kapan mata harus memandang sebuah objek dengan segala keragamannya.

Manusia dianugerahi sepasang mata yang bukan hanya indah dalam bentuknya, tetapi juga luar biasa dalam fungsinya. Mata bekerja tanpa henti, menyerap cahaya, menangkap warna, membedakan bentuk, dan merespons gerak. Namun lebih dari itu, mata adalah gerbang masuknya realitas—apa yang terlihat seringkali menjadi dasar dari apa yang diyakini.

Bersama telinga, mata menjadi jendela utama bagi informasi audio-visual yang lalu diproses oleh otak. Dan justru di sinilah letak perenungan itu dimulai: apa yang kita lihat tak selalu utuh, apalagi benar. Begitu banyak bias, keindahan semu, dan fatamorgana. Mata hanya merekam apa yang kasat, sementara hakikat tetap tersembunyi di balik lapisan yang tak terlihat. Di sinilah perlunya kehadiran hati dan kepekaan jiwa, agar apa yang masuk lewat  mata tidak sekadar jadi pengetahuan, melainkan menjadi hikmah dan pelajaran.

MELIHAT SECARA KOMPREHENSIF

Mata manusia tidak pernah melihat seluruh ruang dan waktu dalam satu tatapan. Setiap pandang dibatasi oleh arah dan jarak dan cahaya. Namun justru di situlah letak keajaibannya : kita diajak untuk memahami bahwa satu peristiwa tak cukup hanya dilihat dari satu arah, jarak dan waktu saja.

Dalam kehidupan, sering kali kita terjebak pada satu sudut pandang, menganggap apa yang kita lihat adalah kebenaran mutlak. Padahal, mata memiliki kemampuan untuk menggeser fokus. Kita pun bisa berpindah tempat untuk melihat satu objek dari sudut yang berbeda. Bila diperlukan kita pun bisa melihat suatu objek pada waktu yang berbeda. Dan dari kombinasi itulah, kebijaksanaan lahir. Sang pencipta memberikan kita kemampuan melihat dengan segala atribut fleksibilitasnya agar kita tak terjebak dalam sempitnya persepsi.

Ketika dihadapkan pada sebuah masalah, kemampuan  melihat adalah kunci menuju pemahaman yang utuh dan solusi yang adil. Hati dan akal akan mendorong kita untuk bertanya: “Apa yang belum aku lihat? Dari sisi mana aku belum memandangnya?” Dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut, kita dapat menemukan sisi lain dari kebenaran, menyaksikan keindahan pada cara pandang yang berbeda, dan pada akhirnya menemukan titik temu.

Post Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *