KETIKA VALIDASI DIPUJA MELEBIHI SUBSTANSI

  • 2 min read
  • Okt 03, 2025

Di era ketika media sosial menjadi panggung utama, validasi menjelma menjadi ritual baru. Ia dipuja, dikejar tanpa henti, hingga sebagian kita lebih mencintai tepuk tangan daripada makna yang sebenarnya.

Layaknya ombak yang menggulung tanpa jeda, pada frekuensi berlebihan, ia akan mengombang-ambingkan jiwa, menyibukkan kita pada tampilan dibanding substansi.

“Pengakuan dari orang lain seringkali menjadi tolok ukur harga diri,” tulis Economica (2022), “hingga isi yang sebenarnya menjadi terpinggirkan.”

Tak dapat dipungkiri, kebutuhan manusia untuk diterima, dipuji dan diapresiasi memang melekat sejak awal. Namun, dalam pusaran media sosial, pencarian pengakuan berkembang menjadi sangat pesat bahkan cenderung obsesif.

Remaja dan anak muda, sebagaimana dicatat riset, membangun identitas mereka tak lagi hanya dari pengalaman hakiki, tapi dari tanggapan dan respons digital yang diterima (Economica, 2022). Seakan-akan hal-hal baik harus dipertontonkan agar mendapatkan validasi sebanyak mungkin.

Kontradiksi Antara Substansi dan Formalitas

Sosiolog Erving Goffman pernah menyatakan bahwa manusia melakukan sandiwara sosial; panggung interaksi sosial menjadi arena “pentas diri.” Kini, fenomena ini diperluas dalam lanskap digital, di mana algoritma media sosial memperkuat perilaku pencitraan.

“Ketika validasi menjadi tujuan utama, substansi sering kali dikorbankan demi kemasan yang menarik.” — Rajiman (2024)

Kondisi ini bukan hanya mengaburkan makna, tetapi juga memicu efek psikologis serius, seperti kecemasan dan depresi.

Kegelisahan dan Kehilangan Identitas

Berjalan dalam sorak sorai pengakuan, kita kerap lupa jati diri sejati kita di balik bayangan “likes” dan komentar yang terus mengalir. Ketergantungan pada validasi eksternal membuat harga diri menjadi rapuh dan tergantung pada penilaian orang lain.

Fenomena ini melahirkan perilaku over-sharing dan pencarian popularitas yang tanpa norma dan batas, bahkan mengorbankan kejujuran dan etika (Economica, 2022; Rajiman, 2024).

Memilih Menepi di Tengah Gelombang

Ketika gelombang sangat kuat di perairan, adakalanya kita harus menepi sejenak. Bukan memutuskan pulang, kita hanya sejenak berhenti untuk meredakan gelombang yang mungkin mendatangkan bahaya.

Mungkin tiba saatnya bagi kita, berhenti sejenak dari euforia validasi semu, dan melakukan instropeksi. Substansi sejati tak selalu harus diiringi riuh tepuk tangan.

“Kesehatan mental dan kesejahteraan emosional tumbuh ketika kita mampu memusatkan perhatian pada isi dan bukan hanya pada penampilan.” — Rajiman (2024)

Daftar Pustaka

Post Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *