Beberapa waktu lalu, saya bersama istri berdiri di ruang depan sebuah TPS tak jauh dari rumah kami. Tahun ini pengurus KPPS menyediakan caping untuk sesi foto sesudah mencoblos. Kami pun mencobanya ; mengenakan caping, tersenyum, dan mengangkat jari telunjuk yang sudah berwarna ungu. Bagi kami ini tak sekadar dokumentasi. Ini adalah bukti bahwa kami memilih untuk hadir dan peduli untuk penentuan masa depan peradaban bangsa ini.
Memilih adalah Kunci
Dalam demokrasi, berpartisipasi bukanlah sekadar hak, melainkan kunci. Ia adalah sarana agar suara rakyat didengar dan bertransformasi menjadi kebijakan. Ketika kita memilih untuk ikut mencoblos pada momen Pilkada, maka kita sedang memilih berpartisipasi dalam penentuan masa depan bangsa, sekecil apapun pengaruhnya. Pendidikan yang lebih baik, layanan kesehatan yang lebih terjangkau, akses terhadap sarana dan prasarana produksi pertanian, serta perlindungan atas tanah – tak bisa terwujud dengan pengelolaan negara yang amburadul.
Sayangnya, banyak orang masih skeptis terhadap Pilkada. “Sama saja,” kata sebagian. Tapi benarkah demikian? Bukankah jika kita semua bersikap pasif, maka kekuasaan akan berjalan tanpa arah? Demokrasi tidak memberikan hasil instan, tetapi ia memberi kita alternatif cara untuk memperjuangkan masa depan.
Jari Ungu adalah Bukti
Jari ungu yang kami tunjukkan tak sekedar bukti bahwa kami telah memilih, tapi juga simbol keberpihakan. Bahwa kami menolak diam dan skeptis, bahwa kita memilih masa depan yang lebih baik. Dalam warna ungu itu juga tersimpan harapan untuk tidak dikhianati, dan keyakinan bahwa perubahan adalah sesuatu yang mungkin—asal kita cukup peduli untuk memulainya.
Call to Action
Mari kita mulai dari yang paling sederhana ; hadir di TPS. Hadir dalam perhelatan tentang masa depan daerah kita. Karena tanpa partisipasi, tidak akan ada perubahan. Dan tanpa keberanian untuk memilih, kita telah menyerahkan masa depan pada ketidakpastian.
