Minggu pagi di pertiga akhir bulan Januari, di antara semarak Car Free Day di kota kami, saya berjalan mengiringi si Sulung yang bulan Maret nanti berusia tujuh tahun. Ia sedang semangat-semangatnya berlari kecil, sementara tangan kiri saya menggendong si Bungsu, yang baru berusia dua tahun. Pandangannya sibuk menyapu keramaian seolah menangkap semua informasi yang terlihat olehnya. Di sisiku, istri mulai bercerita.
Awalnya ia bicara tentang rencana bisnis kecil-kecilan yang terlintas saat ia bangun tidur, lalu berpindah pada kegelisahannya setelah membaca sebuah esai tentang parenting. Sesekali, kalimatnya terputus karena aku harus memastikan si Sulung tidak menabrak pesepeda. Kami melanjutkan perjalanan sambil memastikan posisi gendongan si Bungsu.
Di tengah nafas memburu karena berjalan sambil mengangkat beban dan derap langkah orang-orang, saya sempat berpikir; Bukankah ia bisa menceritakan ini nanti saja di rumah?
Namun, saya segera sadar. Bagi seorang istri, ide untuk bicara kadang datang di waktu yang tidak direncanakan. Ia hadir di sela-sela kesibukan mengurus anak, di sela-sela langkah olahraga pagi, atau bahkan di atas sepeda motor di tengah hiruk-pikuk jalanan. Yang ia butuhkan saat itu bukan sekadar anggukan formalitas. Istri juga butuh teman bicara yang responsif.
Kita sering mengira tugas suami hanyalah menjadi pendengar yang baik. Padahal, istri adalah manusia dengan ragam gagasan yang terus berputar. Ide-idenya tentang fenomena dunia, inovasi bisnis, hingga hasil bacaannya terhadap beragam tulisan, adalah bagian dari menjaga eksistensi dirinya.
Gagasan-gagasan tersebut perlu ditanggapi, didiskusikan, disaring, atau jika perlu, diluruskan dengan cara yang baik jika ada yang keliru. Jika saat perjalanan kami di arena CFD itu aku mengabaikannya, bisa jadi aku sedang membiarkan beban psikologis menumpuk.
Kita harus memberi ruang istri untuk “berisik” di ruang privatenya yaitu bersama suami dan anak-anaknya. Sebab, jika suara-suara itu tidak terakomodir dengan orang-orang terdekatnya, ia akan mengendap dan suatu saat pecah di tempat-tempat yang tidak semestinya.
Menjadi suami yang responsif bukan berarti harus selalu punya jawaban atas semua keluhan. Kenyataannya tak semua suami punya kecerdasan dan keluasan wawasan berlebih. Ini soal memberi rasa bahwa idenya berharga. Bahwa persepsinya tentang dunia, layak untuk didiskusikan dengan hangat sambil menikmati udara pagi yang berangsur hangat ini.
Biarlah ia terus bicara. Sebab, saat seorang istri berhenti berbagi isi pikirannya, saat itulah sebenarnya ada sesuatu yang sedang mulai tak beres. Dari hal ini, aku belajar bahwa mendengar adalah kewajiban, tapi kesungguhan meresponsnya adalah bentuk lain cintaku padanya.
