Kemampuan mendengarkan dalam arti yang lebih luas, justru lebih diperlukan dari sekedar keterampilan berbicara. Keterampilan berbicara bisa dilatih, tapi kemampuan mendengarkan dengan tulus tak hanya masalah keterampilan. Ia adalah kelapangan dada yang muncul dari mindset yang benar mengenai hidup dan hakikat penciptaan manusia. Dia tumbuh dalam kurun waktu yang tidak sebentar.
Terlebih bagi para penuntut ilmu atau orang-orang yang punya obsesi untuk senantiasa meningkatkan wawasan dan kompetensinya. Kemampuan mendengar adalah modal dasar. Seiring dengan kemampuan mendengar ini juga adalah keterampilan mendokumentasikan apa yang kita dengar.
Di tengah perkembangan teknologi yang semakin canggih, rasanya tak sulit untuk mendokumentasikan apa-apa yang pernah kita dengar. Kalau dulu yang terbayang di kepala kita, jenis dokumentasi itu hanyalah mencatat. Tetapi sekarang, dengan hadirnya teknologi yang semakin mengecil, kita dapat mudah mendokumentasikan semuanya dan menatanya dalam perangkat digital yang bisa diakses kapan saja.
