Perkembangan teknologi telah menghadirkan makhluk baru di sekitar kita yang begitu mendominasi. Makhluk itu bernama gadget. Sebagian orang menyamakan istilah gadget dengan ponsel pintar. Kalau kita merujuk ke pengertian gadget sebagai sebuah alat elektronik kecil dengan berbagai macam fungsi maka ruang lingkup gadget sebenarnya tidak hanya ponsel pintar. Gadget juga bisa berupa mp3 player, kamera digital dan tablet. Hanya saja memang diantara gadget-gadget tersebut yang paling populer adalah ponsel pintar. Ponsel pintar termutakhir sudah mampu mengakomodir semua fungsi dari peralatan-peralatan tersebut. Tak hanya sekedar mengakomodir tetapi juga hasilnya yang sangat memuaskan dan semakin berkualitas.
Gadget telah menjadi teman paling akrab bagi manusia modern saat ini. Pertanyaan paling mudah dicerna untuk menggambarkan seberapa dekat hubungan kita dengan gadget adalah “berapa lama waktu yang kita habiskan dalam sehari untuk melihat layar ponsel?”. 1 jam, 2 jam, atau bahkan lebih dari 6 jam. Beberapa dari kita mungkin sudah pernah mencoba melihat fasilitas untuk menghitung screen time dalam sehari bersama ponsel pintar yang kita gunakan.
Sebenarnya interaksi dengan gadget tak selalu identik dengan hal sia-sia. Ada banyak hal positif yang bisa dilakukan bersama gadget. Bahkan ada beberapa profesi tertentu yang memang menuntut lebih banyak waktu bersama gadget. Terlebih dengan perkembangan gadget yang semakin hari semakin kompleks dan bisa melakukan banyak hal. Dari yang awalnya berfungsi sebagai telepon dan sms, kini merambah ke hampir semua fungsi sehari-hari yang dibutuhkan manusia mulai dari fotografi, media sosial, berbelanja, pemetaan sedehana sampai fungsi-fungsi dasar komputer pun diambil alih oleh benda kecil tersebut.
Salah satu keresahan yang dirasakan banyak orang mengenai gadget adalah interaksi anak-anak dengan gadget. Hal ini dimaklumi karena anak-anak belum memiliki fungsi penyaringan dalam menseleksi aneka konten yang disajikan gadget. Selain itu, emosi anak-anak yang masih labil menyebabkan mereka lebih mudah terjebak pada kecanduan gadget, meskipun sebenarnya orang tua sekalipun bisa mengalaminya. Kekhawatiran ini ditambah dengan kondisi pandemi yang menuntut pembelajaran online dan waktu anak-anak yang lebih banyak di rumah.
Anak-anak adalah peniru yang baik. Sehingga jika kita ingin mengajarkan sesuatu pada mereka, maka harus dimulai dengan memberi contoh. Ketika kita ingin anak-anak disiplin beribadah, maka kita harus menjadi contoh yang baik. Ketika kita ingin anak-anak jauh dari gadget, maka kita pun harus memberi contoh dan memberikan alternatif-alternatif pada mereka. Misalnya mengajari mereka bercocok tanam atau sekedar mengajak mereka bermain permainan-permainan anak-anak dulu yang hampir hilang seperti bermain congklak.
Apapun alternatifnya, sebenarnya rumusan terbaik adalah rumusan yang dibuat dengan kesepakatan anggota keluarga. Masing-masing keluarga unik, sehingga strategi mengatasi kecanduan gadget pun unik. Bisa jadi strateginya anak-anak tetap diberikan gadget hanya saja diarahkan kepada keterampilan yang lebih bermanfaat seperti fotografi, desain grafis bahkan pengetahuan dasar mengenai coding dan sejenisnya.
