Aku masih ingat betul, kamar kecil yang dihuni tiga orang di daerah Cibanteng Proyek itu pernah jadi “studio desain” bagiku. Di sana, untuk pertama kalinya aku berkenalan dengan dunia editing foto bernama Adobe Photoshop 7.0. Di antara banyak aplikasi yang terinstal di PC itu, Photoshop jadi salah satu yang paling sering kubuka. Sebenarnya, komputer itu bukan milikku, tapi milik teman sekostan yang berbaik hati membiarkanku ikut nimbrung.
Malam-malam di kosan sering kali diwarnai suara kipas prosesor yang berisik, layar CRT yang kadang berkedip, dan cahaya lampu belajar yang menerangi meja seadanya. Aku mencatat langkah-langkah dasar dari hasil pencarian di search engine waktu itu: belajar membuat layer baru, mencoba berbagai efek foto, dan menghapus bagian-bagian yang tak diperlukan. Rasanya seperti mengukir sesuatu di layar. Aku ingat, fitur pertama yang kucoba adalah mengganti latar belakang foto. Dan ketika berhasil menambahkan background baru di belakang objek utama? Senangnya bukan main.
Sementara yang lain mungkin sibuk dengan game PC, aku justru terpikat dengan dunia editing ini. Bukan bagian dari kurikulum, tapi seperti keinginan yang terus-menerus menggoda untuk dipelajari. Apalagi waktu itu, tahun terakhir di kampus—kuliah sudah habis, kegiatan kelembagaan pun mulai berkurang. Setiap hal baru justru makin bikin penasaran. “Kenapa hasil editanku belum semulus poster-poster di warnet, ya?” pikirku kala itu.
Lebih dari dua dekade berlalu, dan kini—di hadapan layar smartphone dengan prosesor yang jauh lebih cepat dari komputer masa lalu, aku menyaksikan sesuatu yang dulu terasa mustahil kini bisa dikerjakan dalam hitungan detik. Cukup dengan mengetikkan perintah yang kita sebut “prompt”, sebuah sistem kecerdasan buatan mampu membuat desain visual hanya dalam sekejap. Ia tak lagi sekadar menjalankan instruksi, tapi juga belajar, menganalisis, bahkan memberi opsi kreatif.
Dan setiap kali aku mengenang masa-masa itu—kosan sempit dengan suara jangkrik dan aroma mi rebus dari dapur—aku sadar bahwa teknologi berkembang secepat itu bukan semata karena alatnya, tapi karena pengalaman manusia yang menyertainya. Objek pembelajaran boleh berubah, tapi semangat belajar dan rasa ingin tahu tetap menjadi motor utama yang membawa kita terus berkembang.
Hari ini, saat kecerdasan buatan menjadi partner dalam berkarya, aku tak merasa tergantikan. Justru merasa tertantang untuk mengenalnya lebih dalam. Karena keterampilan bukan cuma soal teknis, tapi tentang memahami—dan terus mau belajar—di dunia yang tak pernah berhenti bergerak.
Ternyata, semangat belajar dari keterbatasan dan keingintahuan yang tumbuh di kamar kost sempit itu menjadi salah satu bekal untuk menghadapi zaman yang terus berubah. Hardware maupun software boleh berkembang, tapi manusialah yang memberinya makna.
